Di tengah pesatnya pariwisata Komodo, satu tradisi di kampung kami tetap bertahan hampir tanpa berubah: pasar barter Warloka. Setiap Selasa pagi, warga dari desa pesisir dan dari kampung di perbukitan bertemu untuk saling menukar hasil bumi dan tangkapan laut — tanpa uang sama sekali.
Bagaimana sistemnya berjalan
Nelayan membawa ikan segar atau hasil laut lain, sementara warga dari perbukitan membawa hasil kebun seperti pisang, ubi, sayur, atau kelapa. Nilai tukar disepakati langsung antar pihak, berdasarkan kebiasaan yang sudah dipahami turun-temurun, bukan harga pasar yang kaku.
Tradisi ini dipercaya sudah berlangsung sejak sebelum Warloka dikenal sebagai jalur wisata, saat pertukaran barang menjadi cara paling praktis menghubungkan desa pesisir dan desa pegunungan yang kondisi jalannya masih terbatas.
Pasar ini bukan atraksi wisata buatan — ini kegiatan warga sehari-hari. Kami selalu meminta tamu untuk mengamati dengan sopan, meminta izin sebelum memotret dari dekat, dan tidak mengganggu proses tawar-menawar yang sedang berlangsung.
Cara ikut menyaksikannya
Kami memasukkan kunjungan singkat ke pasar barter ini sebagai bagian dari paket Warloka Heritage Walk, dijadwalkan pagi hari saat pasar sedang paling ramai, sekitar pukul 06.00–08.00 WITA. Trip ini juga bisa digabungkan dengan kunjungan ke Bukit Kenangan di hari yang sama.

.jpg)
